Adventure

Adventure
Solidaritas

Sabtu, 30 Januari 2010

GUNUNG ARJUNO

Gunung Arjuno 3339m dpl
(Saturday, 28 January 2006) - Contributed by Administrator - Last Updated (Friday, 09 May 2008)
Gunung ini terletak di propinsi Jawa Timur, bertype Strato dengan ketinggian 3.339 m dpl. Biasanya gunung ini dicapai
dari dua titik pendakian yang cukup dikenal yaitu dari TRETES dan BATU. Gunung Arjuno bersebelahan dengan
Gunung Welirang. Puncak gunung Arjuno terletak pada satu punggungan yang sama dengan puncak gunung Welirang.
Selain dari dua tempat diatas Guung Arjuno dapat didaki dari berbagai arah yang lain. Gunung yang terletak di sebelah
barat Batu Malang - Jawa Timur ini juga merupakan salah satu tujuan pendakian. Disamping tingginya yang telah
mencapai lebih dari 3000 meter, di gunung ini terdapat beberapa objek wisata. Salah satunya adalah objek wisata air
terjun "Kakek Bodo" yang juga merupakan salah satu jalur pendakian menuju puncak Gunung Arjuna. Meskipun selain
objek wisata air terjun Kakek Bodo terdapat pula air terjun lain, tetapi para wisatawan jarang yang mendatangi air terjun
lainnya, mungkin karena letak dan sarana wisatanya kurang mendukung.Rute PendakianGunung Arjuna dapat didaki
dan berhagai arah; arah Utara (Tretes) melalui Gunung Welirang, dan arah Timur (Lawang) dan dari arah Barat (Batu-Selecta).
RUTE TRANSPORTASI
RUTE ANGKUTAN DARI SURABAYA:
Angkutan mulai dari Surabaya (terminal Bungurasih/Purbaya)
Naik bis jurusan Malang dari bungurasih (turun di Pandaan).
Naik angkutan lokal dari terminal Pandaan turun di Tretes (turun hotel Tanjung).
Ijin pendakian pada posko (jalan kurang lebih 30 M dari hotel tanjung) Untuk Arjuna.RUTE PENDAKIAN DARI TRETES:
Tretes merupakan tempat Wisata dan Hutan Wisata serta terdapat air terjun yang indah yaitu Air terjun Kakek Bodo. Di
Tretes banyak tersedia hotel maupun Losmen, hawanya sejuk dan merupakan tempat peristirahatan yang nyaman. Dan
Pos PHPA Tretes kita dapat langsung rnendaki Gunung Welirang dan juga Gunung Arjuna. Setelah berjalan antara 4 - 5
jam ke arah barat daya dari Tretes kita dapat berhenti dan bermalam di pondok tempat orang mencari bijih belerang,
disini terdapat air yang cukup melimpah untuk memasak atau mandi, Hampir setiap hari sekitar 20 -- 30 orang buruh
mencari dan membawa batu belerang ke Tretes. Ke esokan paginya pendakian dapat dilanjutkan ke puncak Welirang
atau berbelok kita langsung kearah Gunung Arjuna. Perjalanan dari pondok sampai ke puncak Gunung Welirang, akan
melewati hutan Cemara yang jalannya berbatu. Setelah berjalan 3 jam kita akan sampai di puncak Gunung Welirang. Di
bawah puncak Welirang ada sebuah kawah yang menyemburkan gas belerang. Perjalanan dari Tretes sampai ke
puncak Welirang memakan waktu 7 - 8 jam. Bila kita akan melanjutkan penjalanan menuju Gunung Arjuna maka setelah
sesampai di puncak Gunung Welirang kita berjalan turun ± 10 menit tepatnya ke arah selatan. Hutan yang dilalui adalah
hutan cemara dengan melewati sebuah jurang dan pinggiran Gunung Kembar I dan Gunug Kembar II. Setelah berjalan 6
- 7 jam kita akan sampai di puncak Arjuna. Tetapi sebelumnya kita akan melewati tempat yang dinaniakan “Pasar
Dieng”, ketinggiannya hampir sama dengan puncak Gunung Arjuna dan terdapat batu- yang sebagian tersusun
rapi seperti pagar dan tanahnya rata agak luas. Dari sini untuk ke Puncak G. Arjuna hanya memakan waktu ± 10 menit.
Untuk mencapai Gunung Arjuna dan Gunung Welirang dibutuhkan waktu 5 sampai 6 jam. Puncak Gunung Arjuna
anginnya sangat kencang dan suhunya antara 5-10 derajat celcius. Disini kita dapat menikmati suatu Panorama yang
sangat indah terutama bila malam hari, kita dapat melihat ke bawah, kota-kota seperti Surabaya, Malang, Batu,
Pasuruan. serta laut utara dengan kerlipan lampu- lampu kapal. Puncak G. Arjuna disebut juga dengan Puncak
‘Ogal-Agil’ atau ‘Puncak Ringgit. Disekitar puncak bisa mendirikan tenda untuk bermalam. Rute
turun dapat ke kota Lawang atau ke arah timur dengan melewati Hutan Cernara, Hutan tropis dan perdu. setelah itu kita
akan melewati Perkebunan Teh Wonosari bagian utara. Turun ke arah Lawang lebih dekat dan menyingkat waktu
daripada kembali ke arah Gunung Welirang/Tretes. Perjalanan turun ke arah Lawang kurang lebih 6 jam.RUTE
PENDAKIAN DARI LAWANG:
Mendaki Gunug Arjuno dari kota Lawang merupakan awal pendakian yang praktis karena kota Lawang mudah sekali
kita tempuh baik dan arah Surabaya maupun Malang, selain itu Puncak Gunung Arjuno dapat langsung kita tuju dan
arah ini. Bila kita menginginkan mendaki dari kota Lawang, dari arah Surabaya kita naik bus jurusan Malang dan turun di
Lawang (kira-kira 76 Km) dan bila dari Malang, dari Terminal Arjosari kita naik bus menuju Lawang dengan jarak 18 Km.
Dan Lawang kita naik kendaraan umum (angkutan desa) menuju desa Wonorejo sejauh 13 km. Pendakian ke puncak
dimulai dari desa ini menuju ke Perkebunan Teh desa Wonosari sejauh 3 km. Di sini kita melapor pada petugas PHPA
dan juga meminta ijin pendakian, persediaan air kita persiapkan juga di desa terakhir ini. Dari desa Wonosari terus
berjalan dan melewati kebun teh Wonosari serta terus naik selama 3 - 4 jam perjalanan kita akan sampai di “Oro -Oro
Ombo” yang merupakan tempat berkemah. Dari ”Oro-oro Ombo” menuju ke puncak
dibutuhkan waktu 6-7 jam perjalanan dengan melewati hutan lebat yang disebut hutan “LaliJiwo” untuk
menuju puncak terakhir ini. Setelah kita melewati Hutan Lali Jiwo kita akan melalui padang rumput yang jalannva
menanjak (curam) sekali. Mendekati puncak, kita akan berjalan melewati batu-batu yang sangat banyak dan menjumpai
tanaman yang sangat indah setelah itu kita akan mencapai puncak Gunung Arjuna. Rute pendakian lainnya yaitu dari
kota Batu lewat Selecta yang terletak di sebelah Barat Gunung Welirang. Kota Batu merupakan tempat wisata yang
memiliki sumber air hangat dari kaki Gunung Welirang dan keadaannva tidak berbeda jauh dengan Tretes. Dari arah
Kediri atau Malang untuk menuju Batu kita dapat naik bus/Colt, selanjutnya perjalanan dari Batu menuju Selecta
menggunakan Colt (angkutan pedesaan). Selecta salah satu tempat wisata yang ada di kota Batu dengan ketinggian
1.200 m dari permukaan laut. Setelah tiba di Selecta kita dapat bermalam haik di Hotel maupun Losmen. Besok paginya
dengan colt, kita menuju desa Kebonsari. Di desa ini kita harus menyiapkan air secukupnya untuk perjalanan ke puncak
dan kembalinya. Kita memulai pendakian dengan melewati ladang sayur-sayuran dan jalan setapak menuju ke arah
timur laut dan terus naik melewati hutan tropika, dalam perjalanan ini samar-samar akan terlihat puncak Arjuna. Mendaki
selama 5 - 6 jam akan mengantarkan kita pada punggungan gunung yang menghubungkan Puncak Gunung Welirang

Legenda Tersisa - Puncak Abadi Para Dewa

MAHAMERU : “Sebuah Legenda Tersisa - Puncak Abadi Para Dewa”

puncak Abadi Para Dewa

Gunung Mahameru merupakan sebuah gunung yang terdapat di pulau Jawa, Indonesia. Gunung Mahameru mempunyai ketinggian setinggi 3,676 meter.
Gunung Mahameru merupakan gunung yang tertinggi di pulau Jawa dan gunung berapi yang kedua tertinggi di Indonesia dengan ketinggian 3.676m dari permukaan laut dan merupakan salah satu gunung berapi yang paling aktif.
Gunung Mahameru mempunyai kawasan hutan Dipterokarp Bukit, hutan Dipterokarp Atas, hutan Montane, dan Hutan Ericaceous atau hutan gunung.

Gunung Mahameru juga dikenal dengan nama Gunung Semeru. Namun sebenarnya masih ada gunung lain yang bernama Gunung Semeru, yang berada di timur pulau jawa didekat gunung Argopuro. Mahameru merupakan gunung yang tertinggi di Pulau Jawa dan gunung berapi yang kedua tertinggi di Indonesia dengan ketinggian 3676m dpl dan merupakan salah satu gunung berapi yang paling aktif. Setiap lebih kurang 20 menit sekali kawahnya mengeluarkan abu vulkanik berwarna hitam dan pasir.
Posisi gunung ini terletak diantara wilayah administrasi Kabupaten Malang dan Lumajang, dengan posisi geografis antara 8°06′ LS dan 120°55′ BT.
Dilihat dari kejauhan Mahameru menunjukan bentuk kerucut yang sempurna, tetapi saat berada dipuncak gunung tersebut berbentuk kubah yang luas dengan medan beralun disetiap tebingnya. Kawah Jongring Saloka, demikian nama kawahnya ini pada tahun 1913 dan tahun 1946 diisi suatu kubah kawah. Disebelah selatan, kubah ini mendobrak tepi kawah menyebabkan aliran lava kebagian selatan daerah Pasirian, Candiputro dan Lumajang.
Gunung Mahameru adalah bagian termuda dari pegunungan Jambangan tetapi telah berkembang menjadi strato-vulkano luas yang terpisah. Aktivitas material vulkanik yang dikeluarkan meliputi: - Letusan abu, lava blok tua dan bom lava muda - Material lahar vulkanik bercampur dengan air hujan atau air sungai. - Letusan bagian kerucut yang menyebabkan longsoran. - Pertunbuhan lamban/beransur dari butiran lava dan beberapa kali guguran lahar panas.
Seperti pada umumnya ditempat tinggi lainnya, daerah sepanjang rute perjalanan dari mulai Ranupane (2.200m dpl) sampai puncak Mahameru mempunyai suhu relatif dingin. Suhu rata-rata berkisar antara 3°c - 8°c pada malam dan dini hari, sedangkan pada siang hari berkisar antara 15°c - 21°c. Kadang-kadang pada beberapa daerah terjadi hujan salju kecil yang terjadi pada saat perubahan musim hujan ke musim kemarau atau sebaliknya. Suhu yang dingin disepanjang rute perjalanan ini bukan semata-mata disebabkan oleh udara diam tetapi didukung oleh kencangnya angin yang berhembus ke daerah ini menyebabkan udara semakin dingin.
Orang pertama yang mendaki gunung ini adalah CLIGNET (1838) seorang ahli geologi berkebangsaan Belanda dari sebelah barat daya lewat Widodaren, selanjutnya Junhuhn (1945) seorang ahli botani berkebangsaan Belanda dari utara lewat gunung Ayet-ayek, gunung Inder-inder dan gunung Kepolo. Tahun 1911 Van Gogh dan Heim lewat lereng utara dan setelah 1945 umumnya pendakian dilakukan lewat lereng utara melalui Ranupane dan Ranu Kumbolo seperti sekarang ini.
taken from Wikipedia Indonesia.


Mendaki melintas bukit
Berjalan letih menahan menahan berat beban
Bertahan didalam dingin
Berselimut kabut Ranu Kumbolo…

Menatap jalan setapak
Bertanya - tanya sampai kapankah berakhir
Mereguk nikmat coklat susu
Menjalin persahabatan dalam hangatnya tenda
Bersama sahabat mencari damai
Mengasah pribadi mengukir cinta

Mahameru berikan damainya
Didalam beku Arcapada
Mahameru sebuah legenda tersisa
Puncak abadi para dewa

Masihkah terbersit asa
Anak cucuku mencumbui pasirnya
Disana nyalimu teruji
Oleh ganas cengkraman hutan rimba
Bersama sahabat mencari damai
Mengasah pribadi mengukir cinta

Mahameru berikan damainya
Didalam beku Arcapada
Mahameru sampaikan sejuk embun hati
Mahameru basahi jiwaku yang kering
Mahameru sadarkan angkuhnya manusia
Puncak abadi para dewa…

TEKNIK DASAR PENDAKIAN / CLIMBING

Dikenal sebagai suatu perjalanan pendek, yang umumnya tidak memakan waktu lebih dari 1 hari,hanya rekreasi ataupun beberapa pendakian gunung yang praktis. Kegiatan pendakian yang membutuhkan penguasaan teknik mendaki dan penguasaan pemakaian peralatan. Bentuk climbing ada 2 amcam. :

a. Rock Climbing
- pendakian pada tebing-tebing batau atau dinding karang. Jenis pendakian ini yang umumnya ada di daerah tropis.
b. Snow and Ice Climbing
- Pendakian pada es dan salju. Pada pendakian ini, peralatan-peralatan khusus sangat diperlukan, seperti ice axe, ice screw, crampton, dll.

Teknik Mendaki

1. Face Climbing
Yaitu memanjat pada permukaan tebing dimana masih terdapat tonjolan atau rongga yang memadai sebagai pijakan kaki maupun pegangan tangan. Para pendaki pemula biasanya mempunyai kecenderungan untuk mempercayakan sebagian berat badannya pada pegangan tangan, dan menempatkan badanya rapat ke tebing. Ini adalah kebiasaan yang salah. Tangan manusia tidak biasa digunakan untuk mempertahankan berat badan dibandingkan kaki, sehingga beban yang diberikan pada tangan akan cepat melelahkan untuk mempertahankan keseimbangan badan. Kecenderungan merapatkan berat badan ke tebing dapat mengakibatkan timbulnya momen gaya pada tumpuan kaki. Hal ini memberikan peluang untuk tergelincir.Konsentrasi berat di atas bidang yang sempit (tumpuan kaki) akan memberikan gaya gesekan dan kestabilan yang lebih baik.

2. Friction / Slab Climbing
Teknik ini semata-mata hanya mengandalkan gaya gesekan sebagai gaya penumpu. Ini dilakukan pada permukaan tebing yang tidak terlalu vertical, kekasaran permukaan cukup untuk menghasilkan gaya gesekan. Gaya gesekan terbesar diperoleh dengan membebani bidang gesek dengan bidang normal sebesar mungkin. Sol sepatu yang baik dan pembebanan maksimal diatas kaki akan memberikan gaya gesek yang baik.

3. Fissure Climbing
Teknik ini memanfaatkan celah yang dipergunakan oleh anggota badan yang seolah-olah berfungsi sebagai pasak. Dengan cara demikian, dan beberapa pengembangan, dikenal teknik-teknik berikut.

* Jamming, teknik memanjat dengan memanfaatkan celah yang tidak begitu besar. Jari-jari tangan, kaki, atau tangan dapat dimasukkan/diselipkan pada celah sehingga seolah-olah menyerupai pasak.
* Chimneying, teknik memanjat celah vertical yang cukup lebar (chomney). Badan masuk diantara celah, dan punggung di salah satu sisi tebing. Sebelah kaki menempel pada sisi tebing depan, dan sebelah lagi menempel ke belakang. Kedua tangan diletakkan menempel pula. Kedua tangan membantu mendororng keatas bersamaan dengan kedua kaki yang mendorong dan menahan berat badan.
* Bridging, teknik memanjat pada celah vertical yang cukup besar (gullies). Caranya dengan menggunakan kedua tangan dan kaki sebagai pegangan pada kedua celah tersebut. Posisi badan mengangkang, kaki sebagai tumpuan dibantu oleh tangan yang juga berfungsi sebagai penjaga keseimbangan.
* Lay Back, teknik memanjat pada celah vertical dengan menggunakan tangan dan kaki. Pada teknik ini jari tangan mengait tepi celah tersebut dengan punggung miring sedemikian rupa untuk menenpatkan kedua kaki pada tepi celah yang berlawanan. Tangan menarik kebelakang dan kaki mendorong kedepan dan kemudian bergerak naik ke atas silih berganti.

Pembagian Pendakian Berdasarkan Pemakaian Alat

Free Climbing
Sesuai dengan namanya, pada free climbing alat pengaman yang paling baik adalah diri sendiri. Namun keselamatan diri dapat ditingkatkan dengan adanya keterampilan yang diperoleh dari latihan yang baik dan mengikuti prosedur yang benar. Pada free climbing, peralatan berfungsi hanya sebagai pengaman bila jatuh. Dalam pelaksanaanya ia bergerak sambil memasang, jadi walaupun tanpa alat-alat tersebut ia masih mampu bergerak atau melanjutkan pendakian. Dalam pendakian tipe ini seorang pendaki diamankan oleh belayer.

Free Soloing
Merupakan bagian dari free climbing, tetapi sipendaki benar-benar melakukan dengan segala resiko yang siap dihadapinya sendiri.Dalam pergerakannya ia tidak memerlukan peralatan pengaman. Untuk melakukan free soloing climbing, seorang pendaki harus benar-benar mengetahui segala bentuk rintangan atau pergerakan pada rute yang dilalui. Bahkan kadang-kadang ia harus menghapalkan dahulu segala gerakan, baik itu tumpuan ataupun pegangan, sehingga biasanya orang akan melakukan free soloing climbing bila ia sudah pernah mendaki pada lintasan yang sama. Resiko yang dihadapi pendaki tipe ini sangat fatal sekali, sehingga hanya orang yang mampu dan benar-benar professional yang akan melakukannya.

Atrificial Climbing
Pemanjatan tebing dengan bantuan peralatan tambahan, seperti paku tebing, bor, stirrup, dll. Peralatan tersebut harus digunakan karena dalam pendakian sering sekali dihadapi medan yang kurang atau tidak sama sekali memberikan tumpuan atau peluang gerak yang memadai.

Teknik Turun / Rappeling
Teknik ini digunakan untuk menuruni tebing. Dikategorikan sebagai teknik yang sepeuhnya bergantung dari peralatan. Prinsip rappelling adalah sebagai berikut :

1. Menggunakan tali rappel sebagai jalur lintasan dan tempat bergantung.
2. Menggunakan gaya berat badan dan gaya tolak kaki pada tebing sebagai pendorong gerak turun.
3. Menggunakan salah satu tangan untuk keseimbangan dan tangan lainnya untuk mengatur kecepatan.

Macam-macam dan Variasi Teknik Rappeling

1. Body Rappel
Menggunakan peralatan tali saja, yang dibelitkan sedemikian rupa pada badan. Pada teknik ini terjadi gesekan antara badan dengan tali sehingga bagian badan yang terkena gesekan akan terasa panas.

2. Brakebar Rappe
Menggunakan sling/tali tubuh, carabiner, tali, dan brakebar. Modifikasi lain dari brakebar adalah descender (figure of 8). Pemakaiannya hampir serupa, dimana gaya gesek diberikan pada descender atau brakebar.

3. Sling Rappel
Menggunakan sling/tali tubuh, carabiner, dan tali. Cara ini paling banyak dilakukan karena tidak memerlukan peralatan lain, dan dirasakan cukup aman. Jenis simpul yang digunakan adalah jenis Italian hitch.

4. Arm Rappel / Hesti
Menggunakan tali yang dibelitkan pada kedua tangan melewati bagian belakang badan. Dipergunakan untuk tebing yang tidak terlalu curam.

Dalam rapelling, usahakan posisi badan selalu tegak lurus pada tebing, dan jangan terlalu cepat turun. Usahakan mengurangi sesedikit mungkin benturan badan pada tebing dan gesekan antara tubuh dengan tali. Sebelum memulai turun, hendaknya :

1. Periksa dahulu anchornya.
2. Pastikan bahwa tidak ada simpul pada tali yang dipergunakan.
3. Sebelum sampai ke tepi tebing hendaknya tali sudah terpasang dan pastikan bahwa tali sampai ke bawah (ke tanah).
4. Usahakan melakukan pengamatan sewaktu turun, ke atas dan ke bawah, sehingga apabila ada batu atau tanah jatuh kita dapat menghindarkannya, selain itu juga dapat melihat lintasan yang ada.
5. Pastikan bahwa pakaian tidak akan tersangkut carabiner atau peralatan lainnya.

Peralatan Pendakian

1. Tali Pendakian
Fungsi utamanya dalam pendakian adalah sebagai pengaman apabila jatuh.Dianjurkan jenis-jenis tali yang dipakai hendaknya yang telah diuji oleh UIAA, suatu badan yang menguji kekuatan peralatan-peralatan pendakian. Panjang tali dalam pendakian dianjurkan sekitar 50 meter, yang memungkinkan leader dan belayer masih dapat berkomunikasi. Umumnya diameter tali yang dipakai adalah 10-11 mm, tapi sekarang ada yang berkekuatan sama, yang berdiameter 9.8 mm.
Ada dua macam tali pendakian yaitu :

* Static Rope, tali pendakian yang kelentirannya mencapai 2-5 % fari berat maksimum yang diberikan. Sifatnya kaku, umumnya berwarna putih atau hijau. Tali static digunakan untuk rappelling.
* Dynamic Rope, tali pendakian yang kelenturannya mencapai 5-15 % dari berat maksimum yang diberikan. Sifatnya lentur dan fleksibel. Biasanya berwarna mencolok (merah, jingga, ungu).

2. Carabiner
Adalah sebuah cincin yang berbentuk oval atau huruf D, dan mempunyai gate yang berfungsi seperni peniti. Ada 2 jenis carabiner :

* Carabiner Screw Gate (menggunakan kunci pengaman).
* Carabiner Non Screw Gate (tanpa kunci pengaman)

3. Sling
Sling biasanya dibuat dari tabular webbing, terdiri dari beberapa tipe. Fungsi sling antara lain :
- sebagai penghubung
- membuat natural point, dengan memanfaatkan pohon atau lubang di tebing.
- Mengurangi gaya gesek / memperpanjang point
- Mengurangi gerakan (yang menambah beban) pada chock atau piton yang terpasang.

4. Descender
Sebuah alat berbentuk angka delapan. Fungsinya sebagai pembantu menahan gesekan, sehingga dapat membantu pengereman. Biasa digunakan untuk membelay atau rappelling.

5. Ascender
Berbentuk semacam catut yang dapat menggigit apabila diberi beban dan membuka bila dinaikkan. Fungsi utamanya sebagai alat Bantu untuk naik pada tali.

6. Harnes / Tali Tubuh
Alat pengaman yang dapat menahan atau mengikat badan. Ada dua jenis hernas :
* Seat Harnes, menahan berat badan di pinggang dan paha.
* Body Harnes, menahan berat badan di dada, pinggang, punggung, dan paha.
Harnes ada yang dibuat dengan webbning atau tali, dan ada yang sudah langsung dirakit oleh pabrik.

7. Sepatu
Ada dua jenis sepatu yang digunakan dalam pemanjatan :
* Sepatu yang lentur dan fleksibel. Bagian bawah terbuat dari karet yang kuat. Kelenturannya menolong untuk pijakan-pijakan di celah-cleah.
* Sepatu yang tidak lentur/kaku pada bagian bawahnya. Misalnya combat boot. Cocok digunakan pada tebing yang banyak tonjolannya atau tangga-tangga kecil. Gaya tumpuan dapat tertahan oleh bagian depan sepatu.

8. Anchor (Jangkar)
Alat yang dapat dipakai sebagai penahan beban. Tali pendakian dimasukkan pada achor, sehingga pendaki dapat tertahan oleh anchor bila jatuh. Ada dua macam anchor, yaitu :
* Natural Anchor, bias merupakan pohon besar, lubang-lubang di tebing, tonjolan-tonjolan batuan, dan sebagainya.
* Artificial Anchor, anchor buatan yang ditempatkan dan diusahakan ada pada tebing oleh si pendaki. Contoh : chock, piton, bolt, dan lain-lain.

Prosedur Pendakian

Tahapan-tahapan dalam suatu pendakian hendaknya dimulai dari langkah-langkah sebagai berikut:
1. Mengamati lintasan dan memikirkan teknik yang akan dipakai.
2. Menyiapkan perlengkapan yang diperlukan.
3. a. Untuk leader, perlengkapan teknis diatur sedemikian rupa, agar mudah untuk diambil / memilih dan tidak mengganggu gerakan. Tugas leader adalah membuka lintasan yang akan dilalui oleh dirinya sendiri dan pendaki berikutnya.
b. Untuk belayer, memasang anchor dan merapikan alat-alat (tali yang akan dipakai). Tugas belayer adalah membantu leader dalam pergerakan dan mengamankan leader bila jatug. Belayer harus selalu memperhatikan leader, baik aba-aba ataupun memperhatikan tali, jangan terlalu kencang dan jangan terlalu kendur.
4. Bila belayer dan leader sudah siap memulai pendakian, segera memberi aba-aba pendakian.
5. Bila leader telah sampai pada ketinggian 1 pitch (tali habis), ia harus memasang achor.
6. Leader yang sudah memasang anchor di atas selanjutnya berfungsi sebagai belayer, untuk mengamankan pendaki berikutnya.

Panjat Tebing (Rock Climbing)

1. Pendahuluan
Olah raga rock climbing semakin berkembang pesat pada tahun-tahun terakhir ini di Indonesia. Kegiatan ini tidak dapat dipungkiri lagi sudah sudah merupakan kegiatan yang begitu diminati oleh kaula muda maupun yang merasa muda ataupun juga yang selalu muda.Pada dasarnya, rock climbing adalah teknik pemanjatan tebing batu yang memanfaatkan cacat batu tebing (celah atau benjolan) yang dapat dijadikan pijakan atau pegangan untuk menambah ketinggian dan merupakan salah satu cara untuk mencapai puncak. Ciri khas rock climbing adalah prosedur dan perlengkapan yang digunakan dalam kegiatan, juga prinsip dan etika pemanjatan.
Rock Cilmbing bukan hanya menjadi komoditi industri olah raga dan petualngan saja. Tetapi aplikasinya juga telah menjadi komoditas industri-industrilainnya seperti wisata petualangan,outbound training,entertaiment,iklan dan film,serta industri-industri lainnya yang membutuhkan jasa ketinggian.Oleh karena itu perlu ilmu rock climbing yang sangat mendasar sebagai acuan yang kuat diri dan dunia rock climbing itu sendiri.


2. Sejarah Rock Climbing
Pada awalnya rock climbing lahir dari kegiatan eksplorasi alam para pendaki gunung dimana ketika akhirnya menghadapi medan yang tidak lazim dan memiliki tingkat kesulitan tinggi,yang tidak mungkin lagi didaki secara biasa (medan vertical dan tebing terjal).Maka dari itu lahirlah teknik rock climbing untuk melewati medan yang tidak lazim tersebut dengan teknik pengamanan diri (safety procedur).Seiring dengan perkembangan zaman rock climbing menjadi salah satu kegiatan petualangan dan olah raga tersendiri.Terdapat informasi tentang sekelompok orang Perancis di bawah pimpinan Anthoine de Ville yang mencoba memanjat tebing Mont Aiguille (2097 mdpl) di kawasan Vercors Massif pada tahun 1492. Tidak jelas benar tujuan mereka, tetapi yang jelas, beberapa dekade kemudian, orang-orang yang naik turun tebing-tebing batu di pegunungan Alpen diketahui adalah para pemburu Chamois (sejenis kambing gunung). Jadi pemanjatan mereka kurang lebih dikarenakan oleh faktor mata pencaharian.
Pada tahun 1854 batu pertama zaman keemasan dunia pendakian di Alpen diletakan oleh Alfred Wills dalam pendakiannya ke puncak Wetterhorn (3708 mdpl). Inilah cikal bakal pendakian gunung sebagai olah raga. Kemudian pada tahun-tahun berikutnya barulah terdengar manusia-manusia yang melakukan pemanjatan tebing-tebing di seluruh belahan bumi.
Lalu pada tahun 1972 untuk pertama kalinya panjat dinding masuk dalam jadwal olimpiade, yaitu didemonstrasikan dalam olimpiade Munich.
Baru pada tahun 1979 olah raga panjat tebing mulai merambah di Indonesia. Dipelopori oleh Harry Suliztiarto yang memanjat tebing Citatah, Padalarang. Inilah patok pertama panjat tebing modern di Indonesia.
3.Teknik Rock Climbing
Dikenal dua jenis teknik pemanjatan rock climbing, yaitu artificial climbing dan free climbing.
a. Artificial Climbing
Artificial climbing adalah teknik peanjatan yang menggunakan peralatan (pengaman) digunakan selain untuk mengamankan pemanjat (menahan pada saat jatuh), juga di gunakan untuk menambah ketinggian. Biasanya teknik ini lebih mengutamakan sisi petualangan yang pemanjatannya menggunakan jalur yang panjang dan proses pemanjatannya memakan waktu yang lama (berhari-hari).

b.Free Climbing
Free climbing adalah teknik pemanjatan yang menggunakan peralatan (pengaman) digunakan hanya untuk mengamankan pemanjat (menahan pada saat jatuh) tidak digunakan untuk menambah ketinggian. Biasanya teknik ini lebih mengutamakan sisi prestasi dan olah raga. Free climbing umumnya menggunakan jalur-jalur yang pendek dan singkat.

4. Taktik Pemanjatan
Dalam rock climbing ada dua taktik pemanjatan,yaitu Himalayan Tactic dan Alpin Tactic
a.Himalayan Tactick
Himalayan Tactic adalah taktik pemanjatan tebing dengan cara menghubungkan antara base camp dengan tim pemanjat melalui tali. Perlengkapan dan logistik bisa dikirim secara estafet dari base camp ke tim pemanjat.
b.Alpin Tactic
Alpin Tactic adalah taktik pemanjatan tebing tanpa berhubungan lagi dengan base camp. Semua kebutuhan tim (peralatan dan logistik) tim pemanjat dibawa terus oleh tim pemanjat.
Seorang pemanjat tebing dituntut untuk berani, teliti dan berkemampuan menganalisa tinggi, yaitu berpikir dan bertindak cepat dan tepat pada saat kritis. Pemanjat tebing wajib memiliki mental baja dan ketahanan fisik yang besar. Selain itu juga harus memiliki kelenturan tubuh, dan penguasaan teknik yang benar. Karena hal-hal itu merupakan dasar dari panjat tebing.
5. Pengaman ( Ancor)
Rock climbing merupakan suatu kegiatan yang beresiko tinggi (high risk),oleh kerenaitu dibutuhkan suatu pengmanan untuk mengurangi atau meminimalisir resiko yang akan timbul. Pada dasarnya pengaman (ancor) dalam rock climbing dikelompokan menjadi 3 kelompok,yaitu :
1. Pengaman tubuh
Pengaman tubuh, yaitu pengaman yang langsung menempel pada tubuh pemanjat, diantaranya :
a. Tali Kernmantel
Kegiatan rock climbing membutuhkan tali yang kuat, ringan, lentur, tidak mudah basah, cepat kering dan mudah dibawa-bawa. Biasanya para penggiat rock climbing menggunakan tali kernmantel dynamic berdiameter 9 atau 11 mm karena memenuhi persyaratan di atas.
b. Harness
Adalah alat pengaman yang mengikat tubuh kita (sabuk pengaman). Ada tiga macam harness yang biasa digunakan, yaitu : Seat Harness (harness yang bertumpu pada pinggul),Chest Harness (harness yang bertumpu pada dada) dan Full Body Harness (harness yang bertumpu pada dada, punggung, pinggul dan paha).

Gambar seat harness

Gambar Chest harness
c. Helm (Hard Hat)
Seorang penggiat rock climbing dianjurkan menggunakan helm dalam melakukan pemanjatan. Hal ini berfungsi untuk melindungi kepala dari benda yang jatuh dari atas atau jika pemanjat terjatuh.

Gambar Helm
d. Simpul (knot)
Pada rock climbing terdapat banyak simpul yang sering digunakan,namun simpul yang langsung berhubungn dengan tubuh,yang di rekomendasikan adalah simpul delapan ganda.

e. Carrabiner
Carrabiner disebut juga krab atau Snaplink adalah cincin kait yang terbuat dari alumunium alloy yang bentuknya beragam dan mempunyai gate yang berfungsi sebagai peniti dan mempunyai kekuatan yang bervariasi tergantung pada beberapa hal antara lain bahan, bentuk, penampang lintang dan pintunya. Ada dua macam carrabiner yaitu Carrabiner Screw Gate (bepengunci) dan Carrabiner Non Gate / Snap Gate (tidak berpengunci).Adapun standart kekuatan carrabiner yang direkomendasikan oleh UIAA (badan panjat tebing dunia) adalah 2000 kg.

2. Pengaman Alam (Natural Ancor)
Pengaman alam yaitu pengaman yang sudah ada pada tebing secara alami dan dapat dimanfaatkan menjadi pengaman. Diantaranya :
a. Lubang Tembus
Lubang tembus biasanya berupa lubang atau rongga pada tebing. Adapun kriteria lubang tembus yang dapat dimanfaatkan sebagai pengaman adalah

· Ukuran diameternya ideal (tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar)
· Solid atau dalam kesatuan tebing dan tidak ada retakan disekitarnya
· Permukaan dan sisi-sisinys tidak tajam sehingga tidak memotong sling

Gambar lubang tembus
b. Batu Tanduk
Batu tanduk biasanya berupa tonjolan yang menyerupai tanduk pada tebing. Adapun kriteria batu tanduk yang dapat dimanfaatkan sebagai pengaman adalah:
· Ukuran diameternya ideal (tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar)
· Solid atau dalam kesatuan tebing dan tidak ada retakan disekitarnya
· Permukaan dan sisi-sisinya tidak tajam sehingga tidak memotong sling

Gambar batu tanduk
c. Pohon dan Akar
Dalam hal ini pohon atau tumbuhan yang menempel / tumbuh pada tebing. Adapun kriteria pohon dan akar yang dapat dimanfaatkan sebagai pengaman adalah
· Ukuran diameternya ideal (tidak terlalu kecil dan tidak terlalu besar)
· Pohon atau tumbuhannya masih hidup
· Solid atau dalam kesatuan tebing
3. Pengaman Buatan (Artificial Ancor)
Pengaman buatan adalah pengaman yang diciptakan oleh manusia guna menunjang keamanan dalam kegiatan rock climbing. Pengaman buatan ini terbagi atas 4 kelompok, yaitu :
a. Piton (Pasak atau Paku Tebing)
Piton adalah sepotong logam yang dibentuk agar berfungsi sebagi pasak celah tebing batu. Piton kebanyakan dibuat dari baja kromalin. Secara umum piton terbagi menjadi dua macam, yaitu piton bilah atau pipih (blade) dan piton siku (angle). Dari dua macam piton ini berkembang menjadi bermacam-macam bentuk piton yang disesuaikan dengan bentuk celah di tebing batu.

Gambar Piton Angle Gambar Piton Blade
b. Chock (Pengaman Sisip)
Chock adalah alat penahan beban dari arah tertentu yang diselipkan ke dalam celah batu. Chock mempunyai dua bentuk, yaitu : asimetris / tidak simetris,contohya segi enam (hexentric) dan simetris,conyohnya baji (stopper).

Gambar Chock ( Stopper )

Gambar Chock (Hexentric )
c. Pengaman Sisip Pegas (Friend)
Friend adalah sebuah alat penjepit yang manggunakan pegas, yang fungsinya tidak jauh berbeda dengan fungsi chock. Ukuran friend bermacam-macam menyesuaikan dengan berbagai ukuran celah batu.

Gambar friend
d. Baud (Bolt) / Pengaman Tetap
Bolt ini ditanamkan kedalam tebing dan diberi pengait (hanger) dengan menggunakan alat bantu bor tangan (hand drill). Pengaman sifatnya permanen.

Gambar handrill dan hanger
6. Simpul-simpul yang sering digunakan dalam pemanjatan
Adapun simpul-simpul yang biasa digunakan di dalam proses pemanjatan adalah sebagai berikut :
1. Simpul Delapan Ganda :
Digunakan untuk simpul ke tubuh dan penambatan.

2. Simpul Belay :
Digunakan untuk mem-belay dan rappeling.

3. Simpul Jerat :
Digunakan untuk menjerat pengaman.

4. Simpul Pita :
Digunakan untuk menyambung tali yang pipih (webbing).

5. Simpul Pangkal :
Digunakan di dalam penambatan.

6. Simpul Fisherman :
Digunakan untuk menyambung dua tali yang berbeda.


7. Simpul Kambing/Bowline :
Digunakan untuk mengikat barang yang akan di angkat ke atas.

7. Alat Pendukung
Ascender dan Descender
Ascender adalah alat penjepit tali yang berfungsi untuk menahan beban. Prinsip kerjanya adalah dapat menjepit tali kjika terbebani dan aka mengendur jika tidak terbebani.
Descender adalah alat yang berfungsi untuk membantu memberi gesekan pada waktu pemanjat menuruni tebing dengan tali. Dengan begitu, kecepatan turun dapat dikontrol dengan mudah. Biasanya digunakan untuk rappeling atau belaying.
Sling
Sling berguna untuk membuat pengaman maupun memperpanjang runner. Sling dapat dibedakan menjadi 2, yaitu Rope Sling yang terbuat dari tali dan Tape Sling yang terbuat dari pita nilon (webbing). Diameter rope sling berkisar antara 7 sampai 9 mm. Sedangkan tape sling biasanya berukuran 1 inci. Kedua macam sling ini mempunyai kegunaan masing-masing. Pada pinggiran batu yang tajam, webbing dapat tersayat, sehingga rope sling lebih dianjurkan. Sedangkan pada celah sempit, tape sling lebih berguna daripada rope sling.

Gambar sling
Sepatu Panjat
Sepatu memanjat tebing mempunyai ciri-ciri khusus. Ringan dan bagian tapaknya terbuat dari karet yang cukup keras dan kaku yang berfungsi sebagai tumpuan gesekan yang maksimal terhadap pijakan permukaan tebing yang tipis.

Gambar Sepatu Panjat
Hammer
Palu yang digunakan dalam pemanjatan tebing batu sedikit berbeda dengan palu yang digunakan untuk keperluan sehari-hari. Kepala palu harus labih berat dari ekor palu yang berbentuk runcing, yang dapat digunakan untuk mencongkel atau mengungkit alat-alat penahan beban (pengaman buatan).

Gambar Hammer
Webbing
Webbing adalah pita yang terbuat dari bahan nilon yang mempunyai fungsi yang hampir sama dengan tali. Alat ini biasa digunakan untuk sling, tangga gantung dan sebagainya.
Etrier atau Stirrup
Etrier atau Stirrup (tangga gantung) adalah alat yang biasa digunakan dalam pemanjatan artificial. Etrier biasanya terbuat dari webbing atau dari logam aluminium. Dengan alat ini, proses pemanjatan akan emnjadi lebih mudah. Karena alat ini dapat dijadikan pijakan untuk menambah ketinggian dimana sudah tidak ada lagi cacat tebing yang dapat dipijak.

Gambar Etrier atau stirrup
Chalk Bag
Chalk bag adalah kantong kapur yang berisi magnesium carbonat, ukurannya kira-kira sebesar telapak tangan.

Gambar chalk bag
Prusik
Prusik adalah tali karnmantel yang berukuran antara 4 – 6 mm. Biasanya berfungsi sebagai pengganti ascender dan sling.

Gambar prusik
Choker
Choker adalah alat bantu untuk membuka atau melepaskan pengaman buatan. Choker terbuat dari bahan plat ± 3 mm dengan panjang ± 30 cm. Salah satu ujungnya berbentuk seperti ekor kucing yang berfungsi untuk mencongkel atau mengungkit alat alat penahan beben (pengaman buatan).
8. Klasifikasi Pengaman
Pada prekteknya terdapat juga klasifikasi pengaman menurut sifat dan fungsinya, yaitu :
a) pengaman emas :
berarti pengaman bersifat baik sekali. Sangat baik digunakan sebagai penambatan.
b) pengaman perak :
berarti pengaman bersifat baik. Digunakan untuk pengaman selama pemanjatan.
c) pengaman perunggu :
Sifatnya kurang baik. Biasanya digunakan untuk menambah ketinggian.
d) pengaman pengunci
Sifatnya baik sekali (emas). Digunakan sebagai pengaman urutan pertama yang befungsi sebagai tahanan terakhir pada saat jatuh.
9. Penambatan
Penambatan adalah proses tahapan pemanjatan untuk melanjutkan pitch berikutnya (1 etape pemanjatan) atau berganti leader. Syarat penambatan :
a) Memiliki 2 atau lebih pengaman yang bernilai emas.
b) Menggunakan carrabiner screw untuk menambat.
c) Simpul yang dipakai adalah simpul jerat/tambat (untuk pengaman ke tubuh) dan di back up oleh simpul delapan ganda.

10. Pengenalan Prosedur Pemanjatan
Dalam suatu kegiatan alam bebas, menyusun suatu perencanaan merupakan suatu hal yang penting. Bidang rock climbing merupakan kegiatan yang sangat memerlukan tata cara dan prosedur yang tepat agar proses pemanjatan menjadi lancar dan aman.
Prosedur pemanjatan yakni :
Orientasi Jalur
Orientasi jalur merupakan permulaan yang penting dari sebuah pemanjatan. Pemilihan jalur dapat dilakukan melalui data, literatur, informasi dari orang lain atau pengamatan langsung.
Di dalam orientasi jalur, ada hal-hal yang perlu diperhatikan, yaitu :
a) Memperkirakan tinggi tebing, menentukan jenis batuan, menentukan berapa pitch yang akan dilakukan.
b) Menentukan titik awal pemanjatan.
c) Menentukan jenis alat-alat yang akan digunakan.
d) Memperkirakan penempatan anchor (tambatan) untuk istirahat, pergantian leader untuk hanging belay juga hanging bivoack.
2. Pembagian Personil / Manajemen Tim
Pembagian personil dilakukan berdasarkan :
a) Jumlah personil keseluruhan.
b) Kemempuan personil.
c) Jalur yang akan digunakan.
d) Sistem pemanjatan.
e) Ketersediaan alat.
3. Persiapan Peralatan
Peralatan yang akan dipakai disusun dengan rapi dan sistematis. Ini membantu pemanjat dalam menggunakan alat. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi alat yaitu :
a) Jenis batuan.
b) Cacat batuan.
c) Kemampuan leader.
d) Pengaman yang tersedia.
4. Persiapan Pemanjatan
Setelah semua peralatan telah siap, maka pemanjatan dapat dimulai. Hal yang penting dalam pemanjatan beregu adalah komunikasi, apalagi antara leader dan belayer. Tetapi perlu diingat untuk menjaga energi, jangan sampai energi habis karena kita berteriak-teriak. Jadi sebaiknya menggunakan alat komunikasi, seperti handy talky.
5. Memulai Pemanjatan
Leader melakukan pemanjatan hingga pitch 1 yang telah direncanakan sebelumnya. Lalu memasang fixed rope (tali tambat) dari tali baru yang dibawanya yang dapat digunakan sebagai transport orang kedua.
6. Cleaning
Setelah leader menyelesaikan pitch 1, orang kedua bersiap untuk menyusul ke pitch 1 dengan menggunakan fixed rope. Sambil memanjat/jumaring orang kedua (cleaner) ini membersihkan runner-runner yang dipasang oleh leader, agar alat-alatnya dapat digunakan untuk pemanjatan selanjutnya (ke pitch 2).
Tugas cleaner :
a) Membersihkan jalur dan menyapu runner.
b) Mencatat pengaman yang akan digunakan selanjutnya.
c) Sebagai leader untuk pitch selanjutnya.
d) Membawa tali untuk pemanjatan.
7. Pemanjatan untuk pitch 2 dan selanjutnya.
Setelah cleaner sampai pada pitch 1, lalu melakukan persiapan untuk melakukan pemanjatan ke pitch 2. Yang menjadi leader adalah orang yang menjadi cleaner pada saat pemanjatan ke pitch 1. Pada saat pemanjatan ke pitch 2, orang ketiga dan selanjutnya yang masih ada di bawah, melakukan pemanjatan/jumaring. Begitu seterusnya hingga akhir pemanjatan.
8. Turun Tebing
Setelah semua pemanjat telah mencapai target, maka yang harus dilakukan adalah rappeling (turun tebing). Untuk melakukan rappeling perlu membuat anchor untuk penambat tali. Rappeling dapat dilakukan dengan menggunakan tali tunggal atau tali ganda (double). Personil yang turun pertama kali harus membawa tali dan memasangnya pada pitch berikutnya. Persoinil terakhir sebaiknya memakai double rope rappeling dan tali dikalungkan pada anchor, sehingga dapat ditarik sesudah sampai di pitch bawah. Begitu selanjutnya untuk setiap pitch.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam rappeling :
a) Ujung tali harus disimpul.
b) Waspada terhadap rontokan batuan.
9. Pendataan Alat Setelah Pemanjatan
Di dasar tebing, setelah semua pemanjat turun, dilakukan pendataan alat-alat yang telah dipakai. Alat-alat apa saja yang sengaja ditinggal di atas dan pengecekan alat.
10. Pembuatan Topo
Topo adalah gambar atau sket jalur yang berhasil di panjat. Sket ini dilengkapi dengan data-data sebagai berikut :
a) Nama jalur
b) Lokasi
c) Jenis batuan tebing
d) Tinggi tebing
e) Sistem pemanjatan
f) Teknik pemanjatan
g) Waktu pemanjatan
h) Tingkat kesulitan (grade)
i) Data peralatan yang digunakan
j) Daftar pemanjat

Kode Etik Pecinta Alam Se-Indonesia

  • “ PECINTA ALAM INDONESIA SADAR BAHWA ALAM BESERTA ISINYA ADALAH CIPTAAN TUHAN YANG MAHA ESA “
  • “PECINTA ALAM INDONESIA SEBAGAI BAGIAN DARI MASYARAKAT INDONESIA SADAR AKAN TANGGUNG JAWAB KAMI KEPADA TUHAN, BANGSA DAN TANAH AIR ”
  • ” PECINTA LAM INDONESIA SADAR BAHWA PECINTA ALAM ADALAH SEBAGAI MAKHLUK YANG MENCINTAI ALAM SEBAGAI ANUGERAH TUHAN YANG MAHA ESA “
Sesuai dengan hakekat diatas kami dengan kesadaran menyatakan :
  1. Mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Esa.
  2. Memelihara alam beserta isinya serta menggnakan sumber alam sesuai dengan kebutuhannya.
  3. Mengabdi kepada Bangsa dan Tanah Air.
  4. Menghormati tata kehidupan yang berlaku pada masyarakat sekitar serta menghargai manusia dan kerabatnya.
  5. Berusaha mempererat tali persaudaraan antara pecinta alam sesuai dengan azas pecinta alam
  6. Berusaha saling membantu serta menghargai dalam pelaksanaan pengabdian terhadap Tuhan, Bangsa dan Tanah air.
  7. Selesai.

Mendaki Gunung Itu Mengasikkan

mendaki-gunung1
Banyak orang masih bertanya-tanya sampai sekarang,” Apa sih enaknya naik gunung?” Badan capek, dingin, lapar, dan bisa mati juga. Seperti orang kurang kerjaan saja. Tapi, sebenarnya kalau kita tahu trik-trik dalam pendakian gunung. Kegiatan ini ternyata bisa juga dinikmati dan aman-aman saja selama kita tahu batas kemampuan diri sendiri.
Pertama kali yang harus di ketahui dalam perjalanan pendakian gunung adalah bagaimana teknik berjalan. Tentu agak aneh juga kedengarannya. Setiap orang yang punya kaki dan tidak lumpuh pasti bisa berjalan, terus apalagi yang harus dipelajari?
Keseimbangan. Inilah jawaban mengapa kita wajib belajar lagi tentang teknik berjalan di gunung. Di sana, cara berjalan kita tak sama seperti saat kita berjalan di jalan-jalan perkotaan. Di gunung kita harus membawa banyak beban di punggung kita. Kemudian ditambah faktor medan perjalanan yang kadang harus mendaki punggungan-punggungan gunung yang curam, atau melintasi lembah panjang tak bertepi, bahkan kadang-kadang menuruni ceruk-ceruk dalam yang teramat kelam pada akhirnya. Dengan situasi medan seperti itu ditambah dengan beban berat di punggung, maka faktor keseimbangan tubuh adalah mutlak untuk dipelajari.
Maka itu diperlukan harmoni untuk mencapainya. Aturan napas dan gerak langkah haruslah seirama satu sama lainnya. Seperti juga dalam sebuah orkes simfoni, keterpaduan antara pengaturan permainan napas yang disingkronkan dengan gerak langkah yang tidak kaku menjadi sebuah harmonisasi nada tersendiri. Dan jadikan gerak melangkah dalam perjalanan itu sebuah seni tersendiri.
Memang benar ada beberapa prinsip dalam berjalan yang harus dituruti. Seperti melangkahlah dengan langkah-langkah kecil saja. Sebab langkah yang terlalu lebar membuat beban yang dibawa menjadi hanya bertumpu pada satu kaki saja, sehingga membuat keseimbangan kaki menjadi gampang goyah. Selain itu keuntungan lain yang
didapat dengan melangkah kecil-kecil adalah membuat napas lebih mudah diatur. Hal ini berdampak langsung pada sistem penghematan tenaga yang terbuang.
Memang efek samping yang paling kentara dari berjalan dengan langkah kecil ini adalah melambatnya irama jalan. Tapi itu lebih baik adanya daripada berjalan cepat-cepat tapi banyak istirahat yang dibutuhkan. Sedangkan parameter yang dapat dijadikan pegangan untuk mengetahui sampai batas seberapa kita melebihi irama jalan adalah saat kita mulai merasa sulit berbicara dengan rekan seperjalanan. Ini biasanya disebabkan karena irama napas yang mulai tidak teratur dan hal tersebut menjadi tanda bahwa berarti kita berjalan terlalu cepat.
Teknik Istirahat
Buat seorang pehobi mendaki gunung berpengalaman, berjalan terus-menerus selama dua sampai tiga jam tanpa istirahat bukanlah berat. Tingginya jam jalan dan latihan yang terus-menerus membuat stamina dan kekuatan seperti itu bisa diperoleh. Buat ukuran kita, para awam dapat berjalan satu jam terus-menerus dengan diselingi istirahat selama sepuluh menit adalah wajar.
Saat istirahat juga banyak faktor yang harus diperhatikan. Seperti, duduklah dengan kaki menyelonjor lurus ke depan. Karena hal ini dapat melancarkan kembali aliran darah yang sebelumnya hanya terpusat ke kaki. Usahakan cari tempat yang tidak terlalu berangin, karena angin dapat mengerutkan otot yang sedang beristirahat tersebut. Minum air yang berenergi dan bukalah sedikit makanan ringan yang kita bawa, untuk mempercepat proses recovery pada tubuh.
Pendapat yang mengira bahwa meneguk minuman keras di gunung itu baik adalah salah adanya. Memang kehangatan bisa kita dapat dari minuman tersebut tapi pembuluh darah dalam kulit menjadi mengembang dan memberi kesempatan udara dingin masuk ke dalam tubuh. Kehangatan sesaat yang kita terima tidak seimbang dengan akibat setelahnya, yaitu kedinginan dalam jangka waktu lama. Lagipula tak baik bila meminum minuman keras bila sedang dalam berjalan di gunung, selain bisa mengakibatkan mabuk yang bisa berdampak bahaya untuk si pendaki sendiri.
Atur waktu istirahat, jangan terlalu lama juga. Selain sayang pada otot-otot kaki yang sudah memanas dan kencang menjadi mengendur karena kelamaan istirahat. Tapi, bila dirasakan Anda memerlukan istirahat lebih lama dari biasanya itu pertanda Anda berjalan terlalu cepat. Dan bila tiba-tiba tiap setengah jam atau kurang Anda merasa membutuhkan istirahat itu berarti pertanda tubuh kita sudah terlalu lemah dan lelah.
Masalah kelelahan ini haruslah dipertimbangkan masak-masak. Bila hal ini terjadi tak jauh dari puncak tempat tujuan mungkin kita bisa memaksakan untuk mencapainya. Tapi, bila terjadi di tengah perjalanan dan puncak tempat tujuan kita masih terasa jauh dari depan mata lebih disarankan mengambil istirahat panjang, kalau perlu dirikan tenda untuk beristirahat.
Memilih lokasi istirahat juga harus memperhatikan banyak hal. Pilihlah lokasi istirahat yang memiliki pemandangan indah, karena paling tidak secara psikologis menikmati pemandangan dapat mengurangi perasaan lelah yang timbul selama dalam perjalanan. Makan dan minum secukupnya, kalau perlu dimasak dahulu agar hangat dan segar. Baik juga kalau kita memakan sedikit garam untuk menghindari keram.
Medan
Selanjutnya yang perlu diperhatikan saat berjalan di gunung adalah memperhatikan betul medan yang akan kita tempuh. Medan yang berumput dan terjal kadang membahayakan, apalagi saat basah karena hujan atau embun pada pagi hari. Bila kita tak berhati-hati melewatinya, tergelincirlah akibatnya. Apalagi bila kita memakai sepatu yang tidak mempunyai sol ber-‘kembang’ yang layak. Sama juga seperti pada medan yang berlumpur dan becek, cenderung licin dan berbahaya.
Di daerah yang penuh kerikil dan batu-batu tajam disarankan berhati-hati dan tidak bertindak ceroboh. Tidak berbeda juga di saat kita menemui daerah dengan batu-batu besar seperti saat di sungai. Kalau bisa melompat dari satu batu ke batu lainnya lebih disarankan. Tapi ini memerlukan kecepatan gerak dan ketepatan dalam melangkah, karena kadang batu tempat kita berpijak sudah bergulir saat kita akan pindah ke batu yang lain. Faktor kelelahan dan pengalaman juga bisa menjadi acuan bila ingin meloncat-loncat seperti ini. Bila kita sudah terlalu lelah cara yang paling aman adalah dengan menaiki satu per satu batu-batu tersebut dan memeriksa dahulu batu-batu yang akan dipijak agar tidak bergulir nantinya.
Lain lagi bila menemui daerah dengan karakter berpasir. Berjalan mendaki di daerah seperti ini lebih sukar daripada berjalan di atas tanah keras. Setiap kali dua kali melangkah ke atas tanah akan melorot ke bawah sebanyak satu langkah. Kadang-kadang perlulah menyepakkan kaki agar tanah memadat dan tidak melorot lagi. Bila kita menjadi orang kedua kita bisa mempergunakan jalur yang pernah dilalui orang pertama, hal ini bisa menghemat tenaga karena tanah berpasir bekas jejak menjadi lebih padat dan keras.
Juga jangan cepat percaya pada pepohonan kecil-kecil yang berada di pinggir-pinggir tebing. Seringkali pohon tersebut tak cukup kuat untuk menahan tubuh kita, sehingga gampang tercabut saat kita memakainya untuk menahan bobot badan. Pakailah pohon-pohon tersebut hanya sebagai keseimbangan saja.
Jangan terburu-buru mengambil keputusan memotong lintasan yang sudah ada. Memang kadang lintasan tersebut terasa jauh bila kita melewatinya. Tapi percayalah, hal tersebut biasanya dikarenakan faktor mengikuti bentukan alam yang ada di daerah tersebut. Memang itu adanya jalur yang terbaik. Juga biasanya jalur-jalur memotong itu lebih sulit adanya, lebih baik jalan sedikit melingkar tapi dapat menghemat tenaga daripada mengikuti lintasan memotong tapi terkuras tenaga.
Jadi, patut diulang lagi. Ucapan-ucapan yang mengatakan bahwa naik gunung itu susah adalah bohong belaka. Ternyata kita bisa menikmatinya, dan bahaya-bahaya yang timbul di sana sebenarnya bisa diminimalkan dengan cara meningkatkan pengetahuan tentang kegiatan tersebut. Dan dengan menjadikan sebuah perjalanan menjadi sebuah seni adalah cara tersendiri dalam menikmati ciptaan-Nya.